Aku tau. Ketika aku merasa sempurna, merasa hebat dan aku telah mendapatkan segala yang aku inginkan tetapi aku ternyata hanya sendiri. Tidak ada orang yang menemani hidupku. Segala yang aku capai menjadi tidak berarti karena kebahagiaaku belum aku dapatkan. Aku hanya bisa membaginya untuk diriku sendiri.
Aku tau. Ketika aku merasa banyak orang yang akan jatuh cinta padaku dan mencintaiku, saat itu aku tidak akan menyadari bahwa aku akan dibutakan oleh semua itu. Aku tidak akan menyadari saat seseorang yang dengan tulusnya mencintaiku telah aku sia-siakan. Aku tidak akan tau bagaimana orang itu dengan hatinya yang ikhlas menerima segala perlakuanku, sikap dinginku, ketidakperdulianku bahkan (mungkin) pengkhianatan yang telah aku lakukan padanya.
Aku tidak akan menyadari kalau aku telah menyia-nyiakan cintanya karena pikiranku yang mengatakan bahwa aku bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari dia. Bahwa dia bukanlah segala-galanya untukku dan tak akan berarti apa-apa. Bahwa aku bisa mendapatkan orang yang lebih baik darinya dan aku akan banyak dicintai oleh orang lain selain dia. Aku tidak akan menyadari kalau aku telah menyia-nyiakan cintanya karena aku pun begitu sibuk memperhatikan yang lain. Aku tak akan menyadari kasih sayangnya yang tulus kepadaku. Aku tak akan menyadari cintanya yang mencintaiku begitu sederhana. Namun sempurna.
Aku lupa bukan banyak cinta dan kesenangan yang aku cari dalam hidupku. Aku lupa bukanlah ketampanan, kegagahan yang aku butuhkan untuk melengkapi hidupku. Tapi seseorang yang memiliki hati bersih dan tulus yang menerima segala kelebihan dan kekuranganku, yang tidak menuntutku untuk menjadi seseorang yang bukan diriku, yang tak pernah meminta imbalan apapun. Kecuali berharap aku mencintai dia setulus hatiku, berharap aku mampu menyadari bahwa cintanya berharga. Tapi aku akan melupakan segalanya itu jika aku tertutupi oleh kepercayaan diriku yang berlebihan sehingga menjadikanku sosok yang sombong dan keegoisanku yang begitu besar lalu aku akan melewatkan kesempatanku mendapatkan kesempurnaan dalam hidupku pada saat aku meninggalkannya.
Lalu ketika aku tengah dalam keterpurukan, berada dalam kesendirian dan kesepian ditengah kehidupanku, aku tidak memiliki siapa-siapa. Ketika aku menginginkan ada ketulusan yang diberikan seseorang padaku. Semua orang yang aku harapkan menjauh dan tak bisa memberikan ketulusan yang aku harapkan. Semua orang yang aku harapkan malah pergi meninggalkanku disaat aku membutuhkan mereka dan aku sangat kecewa. Lalu aku teringat padanya, pada seseorang yang pernah mencintaiku dengan hatinya yang tulus seperti yang aku harapkan saat ini. Lalu aku teringat lagi segala perlakuanku padanya. Aku teringat lagi segala perlakuanku yang tak pantas padanya. Bagaimana aku menyia-nyiakan hidupnya, waktunya, dan cintanya. Bagaimana aku membuatnya jatuh didalam kekecewaan dan kesedihan. Bagaimana aku mendera hatinya yang tulus mencintaiku dengan luka-luka. Tiba-tiba aku sangat merindukannya, menginginkan dia ada disampingku, menemaniku melewati keterpurukanku.
Aku merindukan segala kesabaran yang dia berikan padaku. Aku merindukan saat-saat canda tawa bersamanya dulu. Aku merindukan perhatian yang selalu ia berikan padaku. Aku merindukan dia yang selalu menantikanku. Aku merindukan dia yang selalu memujaku. Aku merindukan kasih sayangnya. Bahkan aku sangat ingin memiliki kasih sayangnya kembali. Aku sangat sangat ingin memeluknya dengan erat, mendekap dirinya. Segala ketulusan yang ada pada dirinya yang tak akan pernah lagi aku temukan dalam diri orang lain yang pernah dekat dalam hidupku.
Saat ini, aku menyadari dia yang telah aku sia-siakan itu adalah sosok yang kuat. Yang selalu berjuang untukku, cintanya. Yang mampu menanggung kesedihan dan beban yang aku berikan padanya. Yang tidak pernah meninggalkanku walaupun saat itu dia punya seribu alasan untuk meninggalkanku. Yang tidak pernah meninggalkanku yang seringkali menyakitinya. Yang selalu menjagaku agar tak tersakiti sedikitpun. Yang selalu memperhatikanku yang seringkali mengabaikannya. Yang dengan beraninya tetap mencintaiku yang selalu membuatnya sedih dengan segala sikap dan perbuatanku.
Sosok yang menerima segala kekurangan dan keegoisanku dengan hatinya yang terluka. Sosok yang menerima segala perlakuanku yang acuh tak acuh terhadap perasaannya dengan kesabarannya. Sosok yang memberiku cinta, senyum, rasa bangga, hingga air matanya yang mengalir. Semua hanya karena diriku. Sosok yang tetap setia padaku yang sering membiarkan dia kesepian. Sosok yang tetap menginginkanku, membutuhkanku yang tidak pernah hadir untuknya dikala aku adalah orang yang paling ia butuhkan lebih dari siapapun. Sosok yang selalu tersenyum walaupun dihatinya telah banyak luka yang aku berikan padanya. Sosok yang selalu memaafkanku yang seringkali mengulangi kesalahan yang sama. Sosok yang selalu merindukanku yang seringkali meninggalkannya sendirian. Sosok yang selalu mengkhawatirkanku yang sering tak mengabarinya.
Dalam keadaan terburuk sekalipun, dia masih berani menyayangiku. Dia masih berani memberikan cintanya padamuku. "Sosok yang aku sia-siakan itu adalah sosok yang mengabaikan kepentingan dirinya dan perasaannya demi menjaga dan menunjukkan cintanya kepada pasangannya. Yang menjadikan aku sebagai subjek untuk dikasihi, bukan sebaliknya." Aku tak dapat menghitung berapa kali aku menyakitinya, melukainya tetapi dia tidak pernah meninggalkanku seperti mereka yang meninggalkanku.
Lalu aku kembali mengingat semua kata-kata yang pernah ia ucapkan padaku. Aku mengingat semua ungkapan perasaan cintanya padaku. Aku mengingat betapa dia memohon untuk tidak ku tinggalkan. Aku mengingat betapa dia ingin aku tetap disampingnya. Aku mengingat betapa dia tidak ingin aku pergi darinya. Aku mengingat betapa dia takut akan kehilanganku. Aku mengingat betapa dia giat meyakinkanku bahwa hanya dia yang mampu menyayangi aku sampai nanti. Aku mengingat semua yang telah ia berikan hanya untukku yang orang lain tak akan mampu berikan padaku, dan aku mengingat betapa dinginnya sikapku saat itu dan aku yang seolah tak mau tau bagaimana sedihnya perasaannya saat itu. Aku yang tak tau betapa sakitnya ia dengan perkataan yang aku ucapkan tanpa memikirkan perasaannya saat itu. Aku yang tidak menganggapnya di depan orang lain, dan aku baru menyadari betapa jahat dan kejamnya aku terhadapnya.
Lalu kini aku mulai berharap. Seandainya aku tetap berada disana. Aku berharap bisa kembali kesana, tetap berada disana di tempat yang seharusnya aku cintai. Aku sangat sangat merindukan dia ada disampingku, didekatku. Aku sangat sangat merindukan ketulusan hatinya. Aku sangat sangat merindukan ia yang selalu menyayangiku. Tapi aku sudah meninggalkannya disaat aku telah menemukannya.
Rasa sesal tak dapat menolongku. Ya tak ada yang dapat menolongku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya meratapi rasa bersalahku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya menangis menyesalinya. Karena dia sudah pergi dari hidupku, dia telah ku tinggalkan bersama luka yang dalam, dia telah ku tinggalkan bersama kepedihan dihatinya dan dia telah ku tinggalkan bersama ketulusannya mencintaiku walaupun hatinya telah ku hancurkan. Dia tak dapat aku temukan lagi dalam hidupku. Sosok sepertinya tak dapat ku temukan lagi dalam hidupku. Sosok sepertinya yang akan terus membayangi hidupku. Meninggalkan penyesalan mendalam seumur hidupku karena telah mengabaikan cintanya yang begitu besar, kasih sayangnya yang begitu tulus padaku.
Aku hanya akan semakin terpuruk karena aku terlambat menyadari aku telah menyia-nyiakannya. Seseorang yang sesungguhnya mampu melengkapi hidupku dengan cinta yang penuh ketulusan. Seseorang yang seharusnya aku jaga dan cintai sepenuh hatiku. Sesorang yang sudah sepantasnya aku bahagiakan dengan kesungguhanku.
Setelah semuanya hancur. Setelah kata maaf tak lagi berarti. Aku baru menyadari betapa aku adalah orang yang paling bodoh didunia ini karena telah menyia-nyiakan dirinya, tidak menghargainya, keceriaannya, senyumnya, tawanya, dan setianya telah aku hancurkan. Aku baru menyadari betapa berartinya dia dalam hidupku. Aku baru menyadari bahwa sebenarnya dialah sosok yang selama ini aku butuhkan. Aku baru menyadari karena cintanyalah yang membuat diriku seakan sempurna. Aku baru menyadari bahwa hanya cintanya yang bisa menolongku dari perihnya sakit hati. Aku baru menyadari bahwa hanya kasih sayangnya yang bisa melindungiku dari luka hati. Dan selamanya aku akan merindukan dia yang tak lagi ada disampingku. Dia yang tak lagi ada mengisi sepanjang waktuku. Dia yang tak lagi bisa ku gapai, merengkuhnya kembali kesisiku. Dia yang tak akan pernah kembali seperti dia yang dulu. Dia yang selalu menyukaiku, menyayangiku, mencintaiku, sosok yang aku rindukan. Tak lagi ada untukku.
Dia tak mampu lagi tersenyum untukku, setelah aku terlalu dalam melukainya. Dia kehilangan riangnya untukku, setelah aku mengecewakannya terlalu dalam. Dia tak akan kembali sama seperti yang dulu. Dan akulah yang akhirnya menangis, menyesal seumur hidupku, membayar semua perlakuanku dulu.
'Dia' Ilham Zakaria, 17 Desember 1996
Madiun, 30 Oktober 2012 ~
Madiun, 25 Oktober 2016, catatan kepiluan dan kerinduan.