Minggu, 28 Juli 2013

Kisah Pilu

Kini aku terpuruk. Aku merasa jatuh pada lubang yang teramat dalam. Lubang yang mengubur semua mimpi-mimpiku. Lubang yang selama ini menjadi rintangan bagiku. Asaku kian menipis. Bahkan aku tak lagi punya mimpi. Tak lagi miliki cita. Aku hampa dan bahkan aku kosong. Semua telah lenyap dan musnah. Kini hanya ilusi yang ku cipta.
                Aku mulai jatuh di titik nol. Mulai terpuruk dan bahkan enggan tuk melihat dunia. Aku merasa malu dan aku sangat takut melangkah ke depan. Aku yang dulu super optimis kini telah jadi super pesimis. Bangkit ku coba bangkit. Tapi semua hanya gambar ilusi. Ketakutan dan kekhawatiran mengiringi setiap langkah kaki ku.
                Gemerisik air hujan menghentikan lamunan ku. Seketika aku terbangun dari tidur panjangku. Dunia telah mengubahku. Namun aku tetap takut menatapnya. Aku malu tuk bertemu semua orang. Bangkit dari titik nol merupakan hal mustahil bagiku. Berat teramat berat aku melangkah. Kini aku hanya serpihan tak berguna dan bahkan tak berarti.
                Hari demi hari aku melangkah dengan kepala tertunduk. Aku melangkah dengan penuh malu dan kekhawatiran. Aku mulai pendiam. Aku mulai menyendiri. Seandainya saja semua berada. Aku pasti kan lari pergi menjauh. Semua terasa berat ku jalani. Di saat yang lain tertawa saya hanya menitikkan air mata.
                Aku harus bangkit. Bagai bayi yang  baru terlahir. Tanpa dosa tanpa nista. Dengan kesucian yang melengkapi hidupku. Namun. Mungkinkah mereka kan dapat menerimaku? Mungkinkah mereka kan dapat kembali seperti dahulu kala ? aku takut terjatuh lagi. Aku takut segala yang telah ku dapat seketika hilang di telan angin.
                Detik demi detik ku rajut, namun tetap hanya air mata yang menjelajahi jiwa ini. Aku mulai ingin pergi. Pergi dengan sebuah kenangan. Pergi dengan seluruh pangalaman. Aku tak berani kembali. Apalagi menengok kebelakang. Semua bagai alusinasi. Masa lalu mulai perlahan ku lupakan. Masa depan mulai perlahan ku rajut.
                Tak seorang pun membantuku tuk bangkit. Bahkan mereka menjauh dariku. Aku bagai tercipta sendiri. Tak punya teman seorang pun. Tak ada lagi semangat dalam kebangkitanku. Semua hanya asa yang tak terwujud. Aku melangkah sendiri. Aku pergi bersama hal kelam dan kejam. Mungkin aku akan pupus di telan malam.

Rapuh

Terlintas kenangan itu
terbesit dalam benakku
kerapuhan menemaniku
dan
hanya air mata
yang mengarungi perasaan ini

memendam kerinduan
hanya membuat diri ini
tak jujur
dan hati ini
hanya bisa memberontak
dan hanya bisa memohon
untuk mengetahui isi hati ini

hati akan selalu lemah
jiwa akan selalu rapuh
perasaan akan selalu terpendam
jika diri ini tak kan bisa jujur
tak ada yang bisa dipersalahkan

kini semua hanya berakhir
dengan penantian
dan. . .
harapan. . .

“Menanti Sebuah Jawaban“

Aku berhadapan dengan dinding tebal..
Aku berjalan melintas awan..
Aku melangkah menyusuri lautan..
Aku berputar putar diantara dua gunung yang menjulang..

Siapa yang kucari ?
Siapa yang kuhadapi ?
Siapa yang membuat aku menjadi frustasi ?
Siapa yang laki laki yang penuh misteri ini ?

Katakan padaku siapa dirimu..
Katakan padaku apa maumu..
Katakan padaku apa yang ada dalam pikiranmu..
Katakan padaku apa yang kau inginkan dariku..

Sungguh kau mampu mengubah diriku..
Sungguh kau mampu mengubah hidupku..
Sungguh kau mampu mengubah jalan pikiranku..
Sungguh kau mampu mengubah kelam menjadi terang..

Katakan padaku siapa dirimu..
Katakan padaku apa maumu..
Katakan padaku apa yang ada dalam pikiranmu..
Katakan padaku apa yang kau inginkan dariku..

Berhari hari kucoba untuk menghindari..
Berulang kali kucoba menipu diri ini..
Berdiam diri justru membuatku frustasi..
Berharap akan terjawabnya sebuah misteri..

DIAM

Lelah…..
Jika nyatanya yang kulakukan adalah percuma.
Lelah…..
Jika ternyata smua perasaan ini adalah maya.
Lelah…..
Jika akhirnya sgalanya tak pernah ada.

Jika tahu.. apa bisa?
Merubah jalan hidup yang memang sudah menjadi takdir.
Setelah itu.. apa mungkin?
Membuat sgalanya terlihat begitu mudah.
Selain itu.. apa dapat?
Sgala rasa yang tercipta tetap ada sampai akhirnya kematian tiba dihadapannya,
dan menjemputnya kembali menghadap yang maha kuasa.

Sebenarnya.. aku ragu..
Ragu mengiyakan tiap janji yang dia berikan.
Sesungguhnya.. aku takut..
Takut akan perginya menghancurkan sebagian dari hidupku,
dan merampas sebagian napas yang kumiliki.
Semestinya.. sgala rasaku ini..
Tak kurasa jika benar dia tetap akan bersamaku sapai akhir hayatku nanti.

Kau ciptakan dia..
buat dia istimewa dimataku.
buat dia indah dalam bayang pikiranku.
dan kemudian kau rampas sebagai pengganti kekecewaanmu pada yang lain.

Adil…
Adilkah yang kau lakukan ini?.
kau buat hati ini tersayat sakit.
kau hancurkan senti demi senti tulang dalam tubuh ini.
kau renggut hati tak berdosa yang baru saja merasakan cinta.

Adilkah ini? kau pikir..
aku rela melihatnya?
merasakan patahnya dan hancurnya tubuh tak berdayaku.
merasakan hancurnya hati yang mulai kau renggut dari tubuhku.

Apa bisa? kau kembalikan..
kembalikan semua yang kau rampas dari diriku.
sgala perasaan indah yang dulu kurasa.
perasaan bahagia yang dulu melewati tiap rongga hidupku.
harum yang melewati tiap inchi napas panjang ku.
hangat tubuh yang meresap dalam relung-relung tulang tubuku.

kau bertanya.
kau meminta jawabanku.
relakah aku akan smua ini?.

Diam..
hanya diam yang dapat kuberikan sebagai pengganti jawaban yang kau minta.
aku tak dapat berpaling.
tak dapat juga menatap wajahmu layak menantang kau didepan mukamu.

Aku diam.
berdiri mematung.
memikirkan jawaban yang mestinya aku berikan.
menatap relung hati yang mulai kosong dan hancur.
tak dapat merasa.

Adil?.
aku bertanya dalam diri ini.
apa adil?.
jika smua yang kupunya direnggut hanya dalam satu sentakan tiupan napasnya.
masih diam.
merasakan jariku mulai membeku.
membentur pikiran-pikiran dalam kepalaku yang bundar dan berambut ini.

Aku masih berpikir.
ketika kulihat kau mulai bosan menunggu.
jawaban ku hanya diam.
diam yang membosankan.
yang membuat diri ini tak beda dengan kematian.
termenung menunggu otak ini bekerja.

Aku tahu!.
sgalanya mulai jelas.
ketika dengan kesal kau tampakan wajah dia yang kucinta.
yang kau ambil seenaknya.
hanya karena kekecewaanmu pada yang lain.

Aku marah.
tapi dalam diam diriku.
aku kesal.
masih dalam diam ini.
aku cemberut.
dalam tangis yang mulai membentuk dipipi wajahku.
aku berteriak.
dalam pilu hati yang kosong dan hancur.
kau masih menunggu jawaban ku.
diam memperlihatkan wajah kesakitan dia yang kucinta.

Aku mulai pilu.
hati mulai hancur.
jiwa ini perlahan runtuh.
tak dapat membentengi diri dengan ketabahan lagi.
tak dapat melindungi diri dengan keikhlasan lagi.
tak dapat membuat wajah ini polos tak bergeming lagi.
aku mulai menitikan sisa-sisa debu penantian.
merelakan yang terakhir jatuh untuk dia yang kucinta.

Ingin Memelukmu, Apadaya Tangan Tak Sampai

Bagaikan angan jikalau kudapat menggapaimu..
Bagaikan mimpi jikalau kumampu cintaimu..
Karena dikau tercantik..
Karena dikau terbaik..
dan kuhanyalah hiasan kehinaan..

Oh andai saja…
Hartaku berlimpah..
Kupunya segala yang ada..
Kan kuberikan semua itu untukmu saja..
Apa daya duhai sayang… kuorang tak berada..

Kita terpisah samudera yang luas..
Kita jauh bagaikan langit dan bumi…
Namun hati ini bagaikan berteriak..
jika dikau tiada di sisi dalam hidupku..

Ingin menutup lembaran hidup..
Namun ku tak berdaya dalam kelemahan…
Hiduppun segan matipun tak mau..
Dalam kedalaman luka aku berseru…
Dimanakah dikau… dapatkah kugapai…?

Ingin memelukmu, oh… apadaya…
Tanganku tak sampai..
Kuorang hina tak pantas untukmu..
Carilah yang terbaik…
Bahagiamu ada di ujung seberang sana…